Friday, June 7, 2013

Diduga "main kayu' Menjelang Pilgub Jatim, Rizal Ramlie Peringatkan Gubernur Soekarwo


[imagetag]
Soekarwo

Soekarwo dapat surat ancaman diduga dari eks menteri Rizal Ramli
Jumat, 7 Juni 2013 12:03:27

Suhu politik jelang Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Timur 2013 terus memanas. Bahkan, diduga mantan Menteri Perekonomian Rizal Ramli sempat berkirim surat terbuka ke calon incumbent Soekarwo untuk tidak berlaku curang. Dalam surat yang diatasnamakan Rizal Ramli itu berbunyi "Mas Karwo, cara-cara mas Karwo menggunakan uang untuk menggagalkan partai-partai pendukung Khofifah sangat curang dan membayahakan Mas Karwo sendiri. Kami punya bukti-bukti tentang kecurangan Mas Karwo. Cara itu membunuh demokrasi di hulunya, dan meniadakan hak rakyat untuk memilih secara adil. Kami minta Mas Karwo menghentikan cara-cara curang ini. Demi kebaikan Mas Karwo sendiri, dan rasa keadilan. Salam dan Sampai Bertemu."

Surat yang diduga dari Rizal Ramli itu sampai ke Pemprov Jatim sekitar dua hari lalu. Merdeka.com sendiri mendapat isi surat dari salah seorang pejabat di lingkungan pemprov. Terpisah, Soekarwo saat dihubungi tidak bersedia berkomentar. Sementara itu, elemen pendukung pasangan Soekarwo-Saifullah Yusuf (KarSa), Koordinator Aliansi Wong Cilik Bersatu (AWCB) Nugroho mengatakan surat terbuka Rizal Ramli itu salah alamat. "Tudingan Rizal Ramli yang mengatakan Soekarwo telah membunuh demokrasi dengan kekuatan uangnya, itu salah besar. Dengan kebesarannya, Soekarwo telah menunjukkan bahwa beliau adalah pemimpin besar. Soekarwo telah mengupayakan bagaimana Jawa Timur menjadi project pilot untuk menunjukkan rakyat yang adil dan makmur. Ini adalah bukti," tegas Nugroho di Surabaya, Jumat (7/6).

Nugroho juga menyatakan, Pakde Karwo (sapaan akrab Soekarwo) bisa memahami dan merasakan bagaimana penderitaan dan kesengsaraan rakyat dari kemiskinan. "Inilah bukti kenegarawanan seorang Pakde Karwo. Inilah yang dimunculkan Pakde Karwo sebagai seorang pemimpin," ungkapnya berapi-api. Bahkan, Nugroho balik menuding bakal calon pasangan lain, tidak siap berkompetisi di Pilgub Jawa Timur. "Mari kita berdemokrasi secara arif. Kalau kita belum siap, tak perlu maju sebagai pemimpin. Seorang negarawan, seorang calon pemimpin, tidak akan menyalahkan orang lain atas kegagalannya. Kalau menyalahkan orang lain, tolong dia berkaca," sindir Nugroho.

Pun begitu dengan masalah dualisme dukungan dari Partai Kedaulatan (PK) dan Partai Persatuan Nahdlatul Ummah Indonesia (PPNUI). Dia kembali menegaskan, kalau KarSa tidak mencopot dukungan dari bakal calon pasangan lain. "Setelah resmi dilantik sebagai gubernur pada Februari 2009 lalu, Pakde Karwo dan wakilnya merangkul semua partai politik di Jatim. Harapannya, bisa bersama-sama menjalankan roda pemerintahan dengan memberikan masukan serta arahan. Dengan begitu, Pakde Karwo bisa membuktikan kalau dirinya mampu menjaga keutuhan dan ketertiban di Jatim," tandas mantan aktivis PDIP tersebut.
http://www.merdeka.com/peristiwa/soe...zal-ramli.html

Rizal Ramli: Soekarwo Sengaja Hadang Khofifah
Selasa, 4 Juni 2013 18:58 wib

JAKARTA - Rizal Ramli ikut angkat bicara soal dukungan ganda Partai Persatuan Nahdatul Ummah Indonesia (PPNUI) dan Partai Kedaulatan (PK) di Pilgub Jatim. Menteri BUMN era Gus Dur ini menuding calon incumbent Soekarwo sengaja menghadang pencalonan Khofifah Indar Parawansa dengan cara tidak elegan. �Mas Karwo, cara-cara Mas Karwo untuk menggagalkan partai-partai pendukung Khofifah sangat curang dan membahayakan Mas Karwo sendiri,� kata Rizal Ramli melalui keterangan tertulis kepada Okezone, Selasa (4/5/2013).

Rizal Ramli mengaku telah mengantongi bukti-bukti kuat kecurangan calon yang diusung Partai Demokrat tersebut. �Kami punya bukti-bukti tentang kecurangan mas Karwo,� katanya. Rizal menambahkan, cara-cara curang yang dilakukan Soekarwo akan berdampak pada memburuknya demokrasi di Indonesia, terutama Jawa Timur. �Cara itu membunuh demokrasi dihulu, dan meniadakan hak rakyat untuk memilih secara adil,� katanya. Karena itu, dia meminta Soekarwo segera menghentikan praktik politik curang tersebut. �Kami minta Mas Karwo menghentikan cara-cara curang ini. Demi kebaikan mas Karwo sendiri, dan rasa keadilan,� pungkasnya.

Sementara itu, Ketua Umum Partai Kedaulatan (PK), Denny Cilah, menegaskan, pihaknya mendukung Pasangan Khofifah-Herman di Pilgub Jawa Timur. Keputusan tersebut sudah sesuai dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) partainya. �Keputusan apapun yang dikeluarkan oleh Dewan Pimpinan Pusat Partai Kedaulatan bukan keputusan individu tapi berdasar AD &ART, dan bersifat kolektif kolegial,� katanya. DPP Partai Kedaulatan, katanya, secara afirmatif mendukung Khofifah. �Seandainya terjadi perbedaan internal maka ini mutlak urusan internal Partai Kedaulatan yang harus kami selesaikan secara internal pula,� katanya.

Terkait hal itu, ia meminta KPU Jawa Timur untuk tidak memasuki wilayah internal Partai, bertindak bijak, netral dan tidak tendensius. �KPU telah melakukan verifikasi pada Partai Kedaulatan dan Dewan Pimpinan Pusat menyatakan mengusung dan mendukung Khofifah sebagai bakal calon Gubernur Jawa Timur periode 2013-2018,� katanya. Sehubungan dengan situasi di atas, dosen Fisip Unair, Airlangga Pribadi, mengatakan, manuver pasangan Soekarwo-Saifullah Yusuf (KarSa) yang terkesan berusaha mengambil dukungan dari partai pendukung Khofifah menunjukkan bahwa sebenarnya KarSa cenderung takut berkompetisi secara fair dengan Khofifah, merujuk pada apa yang terjadi di 2008. �Ini memprihatinkan karena Soekarwo sebagai kader Partai Demokrat semestinya mengingat pesan Presiden SBY yang kerap kali berpesan agar kader-kader partainya menjalankan politik santun dan etis,� katanya.

Ia menambahkan, apa yang terjadi di Jawa Timur saat ini memperlihatkan bahwa Soekarwo yang merupakan kader Partai Demokrat, karena tidak menjalankan politik yang santun. �Apa yang terjadi di Jawa Timur terlihat bahwa Pakde Karwo sebagai kader Partai Demokrat tidak mengindahkan pesan dari SBY,� tandasnya.
http://surabaya.okezone.com/read/201...adang-khofifah

Pakde Karwo Bantah Jegal Khofifah-Herman di Pilgub Jatim
Rabu, 5 Juni 2013 19:18 wib

Pakde Karwo saat berada di Kantor PKNU Surabaya (Foto: Nurul A/okezone)
SURABAYA- Munculnya dualisme dukungan dari partai Kedaulatan (PK) dan Partai Persatuan Nahdlatul Ummah Indonesia (PPNU) membuat peluang pasangan Khofifah Indar Parawansa dan Herman S Sumawiredja (Khofifah-Herman) tipis. Tudingan ada skenario untuk mengadang agar pasangan ini tidak bisa maju di Pilgub Jatim yang dilakukan oleh pasangan Incumbent pun muncul. Calon gubernur Incumbent, Soekarwo, menepis tudingan tersebut.

Pria yang akrab disapa Pakde Karwo itu membatah telah melakukan penjegalan terhadap langkah Ketua muslimat NU untuk maju dalam running Pilgub Jatim. "Siapa yang menjegal, tidak ada saling jegal. Itu kan masalahnya di KPU Jatim, ada undang-undang yang mengatur soal itu. Dan itu sudah menjadi kewenangan KPU bukan bakal calon," kata Soekarwo kepada wartawan di sela acara Silaturrahim Partai Bulan Bintang di Surabaya, Rabu (5/6/2013).

Dia menjelaskan, Pemilukada Jawa Timur ini seperti berkompetisi dan harus dilakukan secara sehat. Persoalan mendukung atau tidak bahkan sampai muncul dualisme, itu urusan internal partai bukan ulah dari pasangan calon lain. "Lolos atau tidaknya partai pendukung itu urusan dari KPU karena mengacu pada aturan. Jadi tidak ada hubungannya dengan kita (KarSa)," tegasnya.

Seperti diketahui, pasca pendaftaran bakal calon Pilgub Jatim pada 13-19 Mei lalu, muncul polemik. PK dan PPNU memberikan dukungan ganda kepada pasangan Khofifah-Herman (Berkah) dan Soekarwo-Saifullah Yusuf (KarSa). Untuk PPNUI mengeluarkan surat bahwa kepengurusan DPW PPNUI di SK tanggal 16 April mendukung pasangan Berkah sementara di SK DPP PPNU pada tanggal 11 Mei mendukung pasangan KarSa. Dukungan ganda juga terjadi di PK.

Jika dua Parpol ini dianulir dukungannya, maka Pasangan Berkah terancam terpental dari bursa calon pilgub Jatim. Tanpa dukungan dua Parpol ini, Pasangan Berkah hanya mengatongi 14,81 Persen suara. Jumlah tersebut didapat dari suara sah PKB bersama parpol non-parlemen lain. Tentunya dengan total dukungan itu, tidak cukup dengan persyaratan partai politik pengusung calon sebesar 15 persen.
http://surabaya.okezone.com/read/201...i-pilgub-jatim

Indikasi Menjegal Khofifah Secara Berjamaah Sangat Kentara
Rabu, 5 Juni 2013 16:53 wib

[imagetag]
Khofifah Indar Parawansa

JAKARTA - Indikasi untuk menjegal pencalonan Khofifah Indar Parawansa- Herman Surjadi Sumawiredja di Pilgub Jawa Timur semakin kentara. Pelakunya pun bukan satu atau dua pihak, melainkan berjamaah. "Ada indikasi Khofifah sedang dizalimi secara berjamaah. Ada indikasi upaya menjegal dia dalam pencalonan," ujar politisi senior Partai Kebangkitan Bangsa, Taufikurrahman Saleh, melalui keterangan tertulis kepada Okezone di Jakarta, Rabu (5/5/2013). Pencalonan Khofifah-Herman terancam lantaran kasus dukungan ganda PPNUI dan Partai Kedaulatan. Dua parpol tersebut awalnya telah mendaftarkan pasangan Khofifah-Herman ke KPU. Namun, belakangan muncul dewan pengurus wilayah lain dari partai yang sama, ikut mendaftarkan pasangan Soekarwo-Saifullah Yusuf (KarSa) ke KPU Jawa Timur.

Padahal, Ketua Umum PPNUI dan Ketua Umum PK konsisten mendukung Khofifah-Herman. Hanya Sekjen PPNUI dan PK saja yang menyatakan mendukung KarSa. Terkait kasus dukungan ganda ini, menurut Taufik, solusinya sebenarnya mudah. "Sikap Ketua Umum sebenarnya cukup bisa dijadikan patokan, kemana dia mendukung. Ketua Umum itu dipilih lewat kongres. Beda dengan Sekjen atau wakil Ketua Umum," katanya. Menilik situasi di atas, Taufik berharap Komisi Pemilihan Umum Jawa Timur bersikap netral dalam melakukan verifikasi terhadap parpol pendukung pasangan Khofifah-Herman di Pilgub. Menurut dia, keberpihakan terhadap salah satu pasangan calon, akan jadi bumerang. "KPU harus netral, berdiri di tengah, agar keputusan yang diambil adil bagi semua," ingatnya.

Alumni Fakultas Hukum Universitas Airlangga Surabaya tersebut juga mengingatkan, jika Khofifah gagal menjadi calon gubernur, maka akan menjadi preseden buruk bagi demokrasi di Jatim. "Demokrasi seharusnya menjunjung tinggi fair play. Jangan sampai ada penodaan demokrasi yang dilakukan oleh penyelenggara pemilu itu sendiri. Berikanlah banyak pilihan kepada rakyat Jatim," kata mantan aktivis GP Ansor dan IPNU ini. Lebih lanjut, ia mengatakan, jika KPU pada akhirnya menganulir pencalonan Khofifah-Herman, maka lembaga penyelenggara pemilu tersebut layak ditelisik lebih jauh, apakah benar-benar netral atau sudah ada intervensi dari pihak lain. "Intinya, KPU harus benar-benar steril dari intervensi," jelasnya.
http://surabaya.okezone.com/read/201...sangat-kentara

----------------------

Soekarwo wajar saja merasa khawatir dengan masa jabatan Gubernurnya yang kedua kalinya nanti terancam oleh Khofifah, sebab 5 tahun lalu saja beda kemenangannya hanya tipis sekali atas pasangan Khofifah. Pada kondisi sekarang, dimana rakyat sudah tahu gaya kepemimpinan Soekarwo, dan citra partai Demokrat yang menjadi pendukung utamanya mulai rontok akibat kasus-kasus korupsi, wajar saja dia merasa gamang untuk bisa menang kembali. Apalagi beberapa pilkada di Jatim, seperti kota Malang, mempertontonkan fenomena yang mencengangkan, bahwa jago PDIP pun bisa keok dikandang tradisionalnya sendiri. Pemilih sekarang sukar ditebak maunya, meski sudah di gelontori banyak duit dan hadiah-hadiah berupa angpao sembako dan sejenisnya


Blog Archive