Friday, July 5, 2013

Apa Untungnya RI "menahan" Imigran Asing yg Transit Menuju Ostrali? Loloskan ajalah!


[imagetag]
[imagetag]
[imagetag]
[imagetag]

Banyak WNA yang dirazia cuma jadikan Indonesia batu loncatan (ke Australia)
Jumat, 5 Juli 2013 01:45:00

[imagetag]
razia WNA di Apartemen Kalibata City

Beberapa Warga Negara Asing yang dirazia oleh petugas Imigrasi Jakarta Selatan ternyata tidak hanya bermasalah soal perilakunya. Mereka diduga juga menjadikan Indonesia sebagai tempat singgah menuju negara ketiga. "Karena beberapa WNA asal Timur Tengah yang ada di Indonesia tujuannya bukan berkunjung dan menetap. Tapi untuk ke negara ketiga, seperti Australia," kata Kepala Bagian penindakan Kantor Imigrasi Jakarta Selatan, Anggi Wicaksono, di Apartemen Kalibata City, Kamis (4/7).

Meski Anggi mengakui semua WNA yang dirazia mengantongi identitas lengkap, seperti paspor dan visa, mereka tetap diboyong terlebih dulu ke Kantor imigrasi Jakarta Selatan buat diperiksa. Anggi mengatakan, jika terbukti melanggar undang-undang kesusilaan, para WNA itu terancam dideportasi. "Mereka juga memegang visa kunjungan. Yang disaring sampai saat ini ada 60 WNA. Tapi mereka kami tindak tegas. Karena bulan lalu sudah kami razia agar tidak kembali mengganggu ketertiban warga," ujar Anggi.

Petugas Imigrasi Jakarta Selatan menggelar razia di Apartemen Kalibata City, Jakarta Selatan. Petugas mendapatkan informasi dari warga, para warga negara asing (WNA) ini kerap meresahkan warga. Mereka kerap mabuk, menggoda wanita dan nongkrong hingga larut malam. Petugas imigrasi dibantu Polres Jaksel pun menggelar Operasi Merpati menjaring WNA yang bermasalah.
http://www.merdeka.com/peristiwa/ban...-loncatan.html

[imagetag]
Para Imigran gelap dikembalikan ke dalam sel usai di hadirkan pada jumpa pers di Kantor Imigrasi Jakarta Selatan, Jalan Warung Buncit, Kamis (20/6/2013). warga Iran itu menempuh jalur ilegal karena sulitnya syarat untuk mengajukan suaka di Australia dan Indonesia adalah pintu masuk Australia paling mudah. Foto/Kiki Budi Hartawan WNA Iran Diamankan, Indonesia masih Menjadi Lokasi Transit Pencari Suaka

Masalah Keamanan Perbatasan Jadi Obrolan SBY & PM Australia
Jum'at, 05 Juli 2013 04:17 wibAulia Akbar - Okezone

[imagetag]
PM Australia Kevin Rudd

JAKARTA - Isu keamanan perbatasan akan menjadi salah satu pokok pembahasan antara PM Australia Kevin Rudd dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Namun kunjungan Rudd ke Jakarta juga difokuskan untuk menangani tindaklanjut kerjasama ekonomi. "Tentu saja, masalah keamanan perbatasan akan menjadi bagian diskusi dengan Presiden Yudhoyono," ujar Rudd, di Hotel Four Season, Jakarta, Kamis (4/7/2013) malam. "Jadi, diskusi (dengan SBY) akan menjadi diskusi yang sangat serius tentang ekonomi, perdagangan dan investasi. Kami akan membahas, seberapa jauh kita bisa menangani hal ini, dan juga membahas masalah keamanan perbatasan," lanjut Rudd.

Rudd pun mendapat pertanyaan seputar kebijakan imigrasi Australia oleh salah seorang wartawan asing. Rudd mengingatkan kembali bahwa kebijakan imigrasi Australia bisa berubah seiring perkembangan global. Meski demikian, mantan menteri luar negeri itu mengatakan bahwa kebijakan imigrasi Australia akan bekerja dengan baik, dan menaati regulasi internasional
http://international.okezone.com/rea...y-pm-australia

Jadikan Indonesia Transit Migrasi Gelap, Enam WN Iran Diamankan
Rabu, 19 Juni 2013 19:28 WIB

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Enam orang warga negara asing asal Iran diamankan petugas Imigrasi Jakarta Selatan, karena diduga menjadikan Indonesia sebagai titik singgah sebelum masuk secara ilegal ke Australia, Rabu (19/6/2013). Menurut Kepala Seksi Pengawasan dan Penindakan Kantor Imigrasi Jakarta Selatan Anggi Wicaksono keenam warga negara Iran itu diamankan ketika tengah mengajukan permohonan perpanjangan visa izin tinggal di Kantor Imigrasi Jakarta Selatan. "Kami curiga karena saat diminta menunjukan tiket pulang ternyata tiketnya sudah kadaluarsa," ujar Anggi saat dihubungi wartawan.

Anggi menuturkan, enam orang pria warga Iran itu mengaku datang ke Indonesia dengan tujuan untuk berlibur dan biasanya wisatawan mancanegara yang datang untuk berlibur sudah mempersiapkan tiket untuk kepulangan mereka. Oleh karena itu, ketika yang bersangkutan ternyata justru menunjukan tiket kadaluarsa pihak Imigrasi langsung curiga. Petugas kemudian mengamankan keenam warga negara Iran tersebut untuk dilakukan pemeriksaan terhadap mereka. Sampai dengan saat ini keenamnya masih menjalani pemeriksaan.
http://www.tribunnews.com/2013/06/19...iran-diamankan

Dalam 5 Bulan Imigrasi Cokok 74 Pendatang Asing Ilegal di Jakarta
Mereka biasanya datang melalui pantai selatan Jawa Barat.
Kamis, 20 Juni 2013, 22:28

[imagetag]
Warga Negara Asing asal Iran yang ditahan oleh pihak Imigrasi Jakarta Selatan

VIVAnews - Sebanyak 74 orang dari berbagai kewarganegaraan telah ditangkap dan ditindak oleh Kantor Imigrasi Jakarta Selatan dari bulan Februari 2013. Sebagian besar dari mereka telah dideportasi dari Indonesia. Kepala Kantor Imigrasi Jakarta Selatan, Maryoto Sumadi, hari ini mengungkapkan sebagian besar dari mereka datang melewati jalur yang jauh dari pengamatan petugas. "Mereka melewati pantai selatan Jawa Barat, yaitu Sukabumi, Tasikmalaya Selatan dan Pangandaran," jelas Maryoto.

Maryoto menjelaskan, akan terus bekerja sama dengan pihak-pihak berwenang lain, jika ada indikasi terlibat kasus di luar keimigrasian. "Untuk dugaan tindak pidana di luar imigrasi, seperti narkoba kami koordinasi dengan BNN, atau pidana umum koordinasi dengan Polri," jelasnya.

Maryoto menambahkan, kini ada 3 orang warga negara asing yang sedang menjalani proses hukum. Ketiga orang itu antara lain, KO warga negara Sierra Leone, NA warga negara Nigeria, dan AAH warga negara Irak. KO dan NA diketahui berada di Indonesia tanpa memiliki paspor, visa, dan tanpa melalui pemeriksaan pejabat imigrasi. Keduanya kini sedang dalam penahanan dititipkan di LP Cipinang. Sedangkan AAH, warga Irak terbukti menggunakan visa, izin tinggal, dan tanda keimigrasian palsu. "Ketiga orang ini ternyata berniat ke Australia lewat jalur tidak resmi," sambung Maryoto.

Mengaku Turis
Dari 74 orang yang diamankan, petugas terakhir menangkap 9 orang warga negara asing yang diduga akan menyebrang melalui jalur tidak resmi ke Australia. Kesembilan orang itu terdiri dari 1 berkebangsaan Sierra Leone dan sisanya berkebangsaan Iran. Satu orang warga negara Sierra Leone berinisial MM (29), yang diamankan di Apartemen Kalibata City, Jakarta Selatan.

Sedangkan delapan orang warga negara Iran, diamankan saat sedang melakukan perpanjangan ijin tinggal. Mereka mengaku berada di Indonesia karena sedang dalam wisata. "Ketika di cek ternyata ada keganjilan di berkas kemudian kami lakukan interview. Dari situ, mereka tidak bisa secara yakin membuktikan bahwa mereka adalah turis yang sedang wisata," ujar Kepala Sie Penindakan Imigrasi Jakarta Selatan, Dodi Alfisyahrin.
http://metro.news.viva.co.id/news/re...gal-di-jakarta

Inilah Jalur Penyelundupan Imigran Gelap ke Australia
RABU, 12 SEPTEMBER 2012 | 12:00 WIB

[imagetag]
Sejumlah imigran gelap Afganistan berada di dalam bus pada proses pemindahan dari tempat penampungan sementara menuju ke Rumah Detensi Imigrasi Surabaya-Pasuruan di Hotel Nugraha, Malang, Jawa Timur, Senin (23/4). ANTARA/Ari Bowo Sucipto

TEMPO.CO, Madiun - Dari beberapa kali persidangan perkara penyelundupan para imigran gelap yang hingga saat ini masih berlangsung di Pengadilan Militer III-13 Madiun, terungkap rute atau jalur perjalanan sebelum mereka diberangkatkan ke Australia. Para imigran gelap tersebut berasal dari sejumlah negara di Timur Tengah, seperti Iran, Irak, Kuwait.

Rute perjalanan yang melibatkan sejumlah orang, termasuk lima oknum TNI Angkatan Darat di Jawa Timur, dapat dibagi jadi dua. Pertama, rute dari negara asal hingga di perbatasan Indonesia. Kedua, rute daerah yang dilalui selama berada di wilayah Indonesia sampai berlayar ke Australia. Salah satu imigran gelap asal Iran, Mohamad Hardani, 37 tahun, memberikan keterangan melalui penerjemah dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) yang disusun Polisi Militer Komando Daerah Militer (Pom Dam) V/Brawijaya.

Hardani merupakan salah satu saksi dalam perkara lima oknum TNI-AD berkaitan dengan upaya penyelundupan 134 imigran di perairan Prigi, Trenggalek, Jawa Timur, 17 Desember 2011. Namun, perjalanan mereka ke Australia gagal karena kapal yang mereka tumpangi tenggelam dihantam gelombang.

Pada 17 Nopember 2011, dari ibu kota Iran, Teheran, Hardani naik pesawat ke Dubai. Dari Dubai terbang ke Jakarta dan tiba di Bandara Soekarno-Hatta, 18 November 2011. Setelah menginap tiga hari di sebuah hotel di Jakarta, ia menuju Cisarua, Bogor. Di Cisarua, Hardani berkenalan dengan warga Iran, Yosif. �Dari sini muncul kesepakatan ke Australia,� kata Kepala Oditur Militer Madiun, Upang Juwaeni, Rabu, 12 September 2012. Tanggal 12 Desember 2011, Hardani dan tiga anggota keluarganya kembali ke Jakarta menginap di sebuah apartemen. Tanggal 15 Desember 2011, ia dan ratusan imigran lain berangkat dari Jakarta menuju Pantai Popoh, Tulungagung menumpang empat bus.

Imigran asal Iran lainnya, Mohamad Hadi Parivash, 32 tahun, juga memberikan keterangan di BAP. Rute yang dilalui berbeda dengan Hardani. Pada 26 April 2011, Hadi terbang dari Teheran, Iran, menuju Kuala Lumpur, Malaysia. Dari Malaysia terbang ke Bali dan tiba 27 April 2011. Dari Bali terbang ke Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Dari sini, ia dijemput seseorang bernama Husein dan dibawa ke Cisarua, Bogor.

Tanggal 30 April 2011, ia berangkat ke Australia namun ditangkap kepolisian di Sukabumi, Jawa Barat. Lalu ditampung 1,5 bulan di penampungan Kalideres, Jakarta. Di penampungan ia bertemu tujuh anggota keluarganya. Juni 2011 dipindah ke penampungan Cipari, Sukabumi. �Selama di Kalideres kenal dengan imigran lain yang menawari ke Australia,� ujar Upang. Tanggal 3 Desember 2011 dibawa ke Jakarta dan diinapkan di sebuah apartemen. Tanggal 13 Desember 2011 berangkat dari Jakarta menuju Pantai Popoh, Tulungagung, menumpang empat bus.

Selain Pantai Popoh dan Klatak di Tulungagung serta Pantai Prigi di Trenggalek, sejumlah pantai di Pacitan juga beberapa kali jadi tempat transit penyelundupan imigran Timur Tengah ke Australia. Pada 7 September 2012, sebanyak 60 imigran asal Iran, Irak, dan Kuwait tertangkap di dua lokasi di Pacitan. Aksi serupa juga pernah terjadi di Pacitan pada 2010 dan 2011.
http://www.tempo.co/read/news/2012/0...p-ke-Australia

Disuruh Nangkapin Imigran Gelap ke Negaranya, Australia Bantu Duit ala Kadarnya ke Indonesia?
Quote:Tangani Imigran Gelap, Polisi Federal Australia Bantu Polda Kepri Rp1 Miliar
Jum'at, 28-09-2012 | 15:28 WIB

[imagetag]
Duit hanya semilyar? Emangnya bisa bikin apa?

BATAM, batamtoday - Untuk meningkatkan kerjasama dalam bidang penanganan imigran gelap pencari suaka ke Australia, Australian Federal Police memberikan bantuan sebesar Rp 1 miliar kePolda Kepri. Bantuan yang diberikan untuk membangun gedung Satgasda People Smuggling yang sudah selesai dan untuk biaya operasional. Selain untuk membangun gedung, hibah sebesar Rp1 miliar tersebut juga difungsikan alat perlengkapan setidaknya telah menghabiskan sebesar Rp800 juta. Sedangkan Rp200 juta akan digunakan untuk biaya operasional di lapangan dalam menindak kasus imigran gelap.

Gedung Satgasda People Smuggling yang berada di lingkungan Mapolda Kepri langsung diresmikan oleh Waka Brareskrim Mabes Polri, Irjen Pol Saud Usman Nasution, dengan penandatanganan prasasti bersama dengan Commander Chris Sheehan selaku Manajer Indonesia Kantor Perhubungan Australian Federal Police (AFP) di Jakarta. Waka Bareskrim Mabes Polri, Irjen Pol Saud Usman Nasution mengatakan bantuan ini merupakan dana hibah dari AFP kepada Mabes Polri untuk pembangunan gedung dan biaya operasional di lapangan. "Kita sudah melaporkan seluruh dana hibah ini ke Kementerian Keuangan dan masuk dalam rekening penampungan yang tercatat sebagai dana hibah dan kita gunakan dan pertanggungjawabkan sesuai dengan ketentuan penggunaan dana hibah," katanya.

Berdirinya gedung Satgasda People Smuggling di Polda Kepri, Bareskrim Mabes Polri akan membackup Polda Kepri baik itu di bidang pembinaan maupun operasional. Saud mengatakan kembali, hal ini dilakukan mengingat Kepri merupakan pintu gerbang dari berbagai kasus yang harus diantisipasi dan Mabes Polri memperhatikan hal ini terutama bantuan-bantuan seperti ini. "Contohnya kita menyiapkan fasilitas gedung ini dan kedepan kita akan bangun cyber crime laboraturium, sehingga ke depan kasus-kasus yang ringan dan berat sudah menggunakan sarana IT. Kedepan kita harapkan Polda Kepri sudah mampu menangani seluruh kasus dan dapat ditemukan solusinya," jelasnya Usman lagi.

Sementara itu, Commander Chris Sheehan mengatakan bahwa target AFP adalah orang-orang yang menyelundupkan, bukan kepada imigran yang hanya sebagai korban. Selain itu menurutnya, Kepri khususnya Batam merupakan pintu masuknya imigran gelap, sehingga Australia ingin membantu agar kapasitas kekuatan Polda Kepri bertambah. "Yang menyelundupkan imigran ini adalah pelaku kriminal yang mengambil keuntungan dari imigran-imigran gelap ini, sehingga mereka patut ditangani secara serius," katanya.

Melalui kerja sama yang telah dijalin, Chris Sheehan menginginkan adanya kerjasama di bidang intelijen untuk dapat berbagi berbagai informasi. Sehingga kedepannya, AFP juga akan memberikan bantuan berupa pelatihan, dan AFP juga akan memberikan bantuan untuk Cyber Crime untuk ke depannya. Sedangkan dari bantuan sebesar Rp200 juta untuk dana operasional, Chris Sheehan mengatakan, AFP akan mengucurkan dana tersebut dengan melihat dari kasus per kasus yang ditangani, dan akan diserahkan langsung ke Mabes Polri, karena Mabes Polri yang lebih memahami penanganan anggaran untuk Polda Kepri.
http://batamtoday.com/berita20070-Ta...p1-Miliar.html

Atasi Imigran Gelap, Australia Bantu Polri Rp 27,5 M
Senin, 05 Juli 2010 15:01 wib

JAKARTA - Badan Reserse Kriminal Umum Mabes Polri menerima bantuan dari Divisi Komisioner Pemerintah Australia senilai 3,6 juta dolar Australia atau sekira Rp27,5 miliar untuk menangani kasus penyelundupan manusia. �Mereka telah memberikan bantuan sejumlah 3,6 juta dolar Australia yang diberikan kepada Pemerintah Indonesia melalui Mabes Polri. Itu dibagi untuk Bareskrim. Dalam hal ini, kami punya satuan tugas penanganan penyelundupan manusia dan juga dari Babinkam, yaitu melalui Satuan Tugas Kepolisian Air,� beber Kabareskrim Komjen Pol Ito Sumardi di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Senin (5/7/2010).

Selain itu, lanjut Ito, bantuan juga diberikan dalam bentuk pelatihan seperti patroli. �Juga untuk merenovasi dan membangun tempat-tempat penahanan sementara, karena ini kan tentunya sangat mempengaruhi situasi keamanan di negara kita,� jelas Ito. Dia melanjutkan, untuk memerangi penyelundupan manusia, peran masyarakat juga dibutuhkan. �Kita sendiri sudah melihat, mereka saat ini sudah bergaul dengan masyarakat. Pada kesempatan ini kami sangat berharap masyarakat juga bila melihat orang asing masuk ke lingkungan, beritahukan kepada kepolisian,� imbuhnya.

Menurutnya, penanganan masalah imigran ini juga untuk mengantispasi tindakan kriminal. �Apakah mereka terlibat dalam kasus-kasus kriminal, atau pun juga kasus-kasus teroris. Dari 797 orang yang ditangkap, 70 persen berasal dari Afghanistan. Kita tidak ingin memindahkan daerah konflik dari negara mereka ke negara kita,� ujarnya.

Saat ditanya di mana saja tempat penahanan sementara bagi para imigran gelap, Ito menjelaskan di beberapa titik jalan masuk ke wilayah RI. �Ada beberapa tempat yang menjadi pintu masuk buat mereka. Ruang penahanan, saat ini, masih menyewa hotel atau rumah penduduk dan sulit untuk mengawasi mereka,� terangnya. Berdasarkan hasil penilaian dari Australian Federal Police (AFP), sambungnya, yang saat ini bekerja sama dengan Polri, sudah ditetapkan beberapa tempat seperti di wilayah timur dan barat Indonesia yang merupakan pintu masuk. �Sehingga nanti kita tidak perlu lagi menyewa rumah atau hotel. Bantuan proyek itu hanya sekali,� tandasnya.
http://news.okezone.com/read/2010/07...polri-rp27-5-m


--------------------------

Yang gua heran itu, para imigran gelap dari kawasan Timur Tengah yang bergolak, Iran dan Afghanistan serta Myanmar yang akan mengadu nasib ke Australia itu, tak pernah bermasalah dengan aparat keamanan dan migrasi di Malaysia, Thailand dan Singapore, padahal untuk menuju Australia, pastilah ketiga negara itu akan mereka lewati. Kenapa? Karena aparat penegak hukum di tiga negara itu tak mau "tunduk" begitu saja dengan permintaan Pemerintah Australia agar negara yang menjadi transit para imigran gelap ke negaranya itu, ditahan atau ditangkap dulu untuk kemudian di deportasi.

Pemerintah kita memang mendapat "bantuan" dari Australia untuk hal itu, meski kagak seberapa nilainya. Seharusnya, biarkan saja mereka transit, kasih bekal ala kadarnya, lalu dibiarkan lepas menuju lalu bebas menuju negara idamannya itu. Negara berdaulat dan besar seperti RI, kok mau-maunya menjadi SATPAM halaman depan dengan bule yang suka tak bersahabat dengan RI itu. Aneh, bukan?Giliran ada koruptor atau tokoh separtis yang tinggal di negara itu, mereka (Pemerintah Australia) bersikap masa bodoh aja tuh buktinya. Gitu kok dikasih hati!

Blog Archive