BERITA TERKINI

Wednesday, July 17, 2013

Spekulasi Megawati "mewakafkan" Jokowi untuk Prabowo, Why Not? Sangat Rasional!

[imagetag]

Keputusan Pencapresan Jokowi Ada di Tangan Megawati
Wed, 17/07/2013 - 09:38 WIB

RIMANEWS - Elektabilitas Joko Widodo (Jokowi) sebagai calon presiden pada Pemilu 2014 selalu menempati posisi teratas dalam berbagai survei. Namun restu Jokowi untuk bisa maju sebagai calon presiden ada di tangan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).

Aktivis Relawan Pemilu Indonesia, Richard Ahmad yakin, Jokowi tidak akan berbuat apa-apa tanpa titah dari partai yang dipimpin Megawati Soekarnoputri itu. "Sepertinya ia akan patuh terhadap partai. Sebelum ada keputusan dari partai, dia tidak akan berbuat apa-apa," kata Richard, Selasa (16/7/2013).

Saat ini Jokowi bisa saja mengatakan tidak minat jadi calon presiden dan konsen mengurus Jakarta karena izin dari Megawati memang belum keluar. "Persoalannya Jokowi belum tentu akan dipasangkan dengan siapapun. Karena ini (survei) masih prematur dan perjalanannya masih panjang," ujarnya.

Walau nantinya Jokowi tidak maju sebagai calon presiden, lanjutnya, sebenarnya PDIP sudah meraup untung dari tingginya elektabiltas mantan Walikota Solo itu. Dia yakin, meroketnya elektabilitas Jokowi ikut mempengaruhi elektabilitas PDIP. "Survei itu berdampak positif bagi PDIP. Selain itu, dari 12 partai peserta Pemilu, oposisi yang paling diuntungkan. Karena pemerintah saat ini belum bisa memberikan rasa aman bagi masyarakat," terang mahasiswa magister ilmu politik di salah satu perguruan tinggi itu.

Karena bisa meraup untung dari tingginya elektabilitas Jokowi, analisa Richard, PDIP tak akan terburu-terburu memberikan kepastian, apakah Jokowi akan diusung jadi capres atau tidak. Sebelumnya Survei yang dilakukan Indonesia Research Centre (IRC) menempatkan Jokowi (32 persen) sebagai presiden. Setelah Jokowi ada Prabowo (8,2 persen), Wiranto (6,8 persen), Megawati (6,1 persen) yang dipilih sebagai presiden. Sementara Aburizal Bakrie yang secara resmi dikandidatkan oleh Golkar hanya dipilih oleh 3,3 persen masyarakat.
http://www.rimanews.com/read/2013071...angan-megawati

[imagetag]
Jokowi dan Prabowo

Prabowo 'Digemari' Pria, Jokowi 'Disukai' Wanita
Selasa, 16 Juli 2013 | 18:00 WIB

inilah..com, Jakarta - Jika Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 dilaksanakan hari ini, pemilih pria akan cenderung memilih Prabowo Subianto dan Wiranto. Sedangkan pemilih perempuan memberikan suaranya kepada Joko Widodo atau Jokowi, Dahlan Iskan, Megawati Soekarnoputri, Jusuf Kalla, dan Aburizal Bakrie. Hal itu terungkap dalam hasil survei Indonesia Research Centre (IRC) yang disampaikan ke redaksi inilah..com, Selasa (16/7/2013) sore. Survei tersebut dilakukan IRC terhadap sejumlah pemilik telepon yang ada di 11 kota di Indonesia, sejak 8 Juli hingga 11 Juli 2013.

Peneliti IRC Natalia Christanto mengungkapkan, berdasarkan jenis kelamin, pemilih laki-laki kedapatan memberikan suara kepada Prabowo (66,1%) dan Wiranto (58,8%). Sedangkan mayoritas yang memilih Jokowi, Dahlan Iskan, Megawati, Jusuf Kalla dan Aburizal Bakrie adalah perempuan. Natalia juga membeberkan, menurut kelompok usia, secara umum tingkatan usia, baik pemilih pemula, muda, dan tua, lebih memilih Jokowi daripada kandidat lainnya.

Hanya saja, jika diperiksa karakteristik pemilih pada masing-masing kandidat, pada umumnya karakteristik pemilih setiap kandidat presiden sebagian besar adalah pemilih berusia muda. �Kecuali Wiranto yang mendapat 52,9% dari yang mayoritas pemilih generasi senior,� tuturnya. Survei IRC dilakukan dengan margin of error (MoE) kurang lebih 3,48% pada tingkat kepercayaan 95%. Sedangkan, karakteristik responden yang terpilih dalam survei ini adalah laki-laki (45%) dan perempuan (55%). Responden berusia 17-21 tahun (7%), 22 � 40 tahun (48%) dan usia di atas 40 tahun (45%). Sedangkan pendidikan responden untuk setingkat SD-SLTP (11,2%), setingkat SLTA (54%) dan di atas diploma (32,9%).
http://nasional.inilah..com/read/det...a#.UeYPqdLfCfc

Survei IRC: Elektabilitas Jokowi 32%, Berikutnya Prabowo 8%
Pemilih PDIP lebih memilih Jokowi daripada Megawati
Selasa, 16 Juli 2013, 04:11

[imagetag]

VIVAnews - Elektabilitas Joko Widodo sebagai calon presiden makin tak terbendung. Indonesia Research Centre (IRC) menemukan, jika Pemilihan Presiden digelar hari ini, 32 persen responden memilih Jokowi. "Setelah Jokowi ada Prabowo (8,2%), Wiranto (6,8%), Megawati (6,1%) yang dipilih sebagai presiden. Sementara Aburizal Bakrie yang secara resmi dikandidatkan oleh Golkar hanya dipilih oleh 3,3 persen masyarakat," demikian hasil survei IRC yang diterima VIVAnews, Senin 15 Juli 2013.

Jika elektabilitas kandidat presiden dilihat berdasarkan konsitituen masing-masing partai politik, mayoritas konstituen PDIP lebih memilih Jokowi (54,9%) daripada Megawati (14,3%). Kemudian Gerindra, mayoritas konstituen konsisten akan memilih Prabowo (58%). Sementara itu Hanura, sebagian besar konstituen akan memilih Wiranto (44,4%) sebagai presiden. Yang menarik adalah konstituten Golkar, suaranya terbelah, dengan kecenderungan lebih memilih Jokowi (26,4%) daripada Aburizal Bakrie (20,8%). Jokowi mampu menyerap konstituen yang lebih luas. Terbukti Jokowi mendapatkan dukungan dengan prosentase yang relatif signifikan, yakni antara 17% hingga 37%, dari konstituen partai politik lain di luar PDIP. Ada gejala menarik jika pemilih kandidat presiden dilihat berdasarkan jenis kelamin. Sebagian besar pemilih Prabowo (66,1%) dan Wiranto (58,8%) adalah kaum laki-laki. Sebaliknya mayoritas yang memilih Jokowi, Dahlan Iskan, Megawati, Jusuf Kalla dan Aburizal Bakrie adalah perempuan.

Sementara itu jika dilihat menurut kelompok usia, secara umum tingkatan usia � baik pemilih pemula, muda, dan tua � lebih memilih Jokowi daripada kandidat lainnya. Namun demikian, jika kita periksa karakteristik pemilih pada masing-masing kandidat, pada umumnya karakteristik pemilih setiap kandidat presiden sebagian besar adalah pemilih berusia muda; kecuali Wiranto (52,9%) yang mayoritas pemilihnya adalah generasi tua. Yang juga menarik untuk digarisbawahi adalah kenaikan elektabilitas capres yang diusung Hanura, Wiranto. Jika pada survei-survei sebelumnya elektabilitas Wiranto berkisar pada angka 3-4 persen, pada survei yang diselenggarakan IRC kali ini elektabilitas Wiranto mencapai angka 6,8 persen. Kenaikan yang cukup signifikan kemungkinan merupakan merupakan efek dari deklarasi capres-cawapres Wiranto-Hary Tanoesoedibjo 2 Juli 2013.

Dalam survei ini, selain mengukur elektabilitas kandidat presiden, juga ditanyakan mengenai kandidat wakil yang dianggap cocok dan potensial mendampingi beberapa kandidat presiden sebagaimana telah dipaparkan di atas. Data IRC menunjukkan, pada umumnya masyarakat belum bisa menentukan pasangan mana yang potensial untuk mendampingi Jokowi, Prabowo Wiranto, ataupun Aburizal Bakrie. Namun demikian ada sebagian masyarakat yang menyebutkan Jokowi cocok disandingkan dengan Dahlan Iskan (13,9%), Ahok (11,9%), Hary Tanoe (5,7%) dan Mahfud MD (2,6%). Sementara yang dianggap cocok mendampingi prabowo antara lain Jokowi (20,4%) dan Dahlan Iskan (7,4%). Kemudian Wiranto dipandang cocok dengan Hary Tanoe (9,2%) dan Jokowi (6%). Dan pasangan untuk mendampingi Aburizal Bakrie antara lain Jokowi (14,7), Dahlan Iskan (7,1%) dan Jusuf Kalla (6,5%).

Populasi Survei adalah pemilik telepon di 11 kota besar di Indonesia (Bandung, DKI Jakarta, Surabaya, Makassar, Denpasar, Medan, Palembang, Lampung, Semarang, Samarinda dan Tangerang). Jumlah sampel (n) sejumlah 794 responden yang dipilih secara acak dari buku telepon residensial terbaru terbitan Telkom. Dengan jumlah sampel di atas maka margin of error (MoE) + 3.48% pada tingkat kepercayaan 95%. Responden yang terpilih dalam survei ini adalah laki-laki (45%) dan Perempuan (55%). Responden berusia 17-21 tahun (7%), 22 � 40 tahun (48%) dan usia di atas 40 tahun (45%). Sedangkan pendidikan responden untuk setingkat SD-SLTP (11.2%), setingkat SLTA (54%) dan di atas diploma (32.9%)
http://otomotif.news.viva.co.id/news...nya-prabowo-8-

Koalisi PDIP-Gerindra di Pilpres 2014 Tergantung Hasil Pileg
KAMIS, 27 SEPTEMBER 2012 11:42

Starberita-Jakarta, Koalisi PDIP dan Partai Gerindra dalam Pilgub DKI yang memenangkan Jokowi-Ahok, belum tentu akan berlanjut dalam Pilpres 2014. Menurut Ketua DPP PDIP Ganjar Pranowo, nasib koalisi PDIP-Gerindra dalam Pilpres 2014 sangat ditentukan hasil perolehan suara Pemilu Legislatif (Pileg) PDIP. "Memang hasil peroleh suara pilegnya berapa? Loh kalau kita menang, katakan dapat 22 persen suara, kita pasti akan menentukan sikap sendiri," kata Ketua DPP PDIP Ganjar Pranowo, Kamis (27/9).

Menurutnya, hasil perolehan suara dalam Pileg yang paling menentukan apakah PDIP akan berkoalisi dengan Gerindra atau partai lain. Jika perolehan suara PDIP kecil, tentu bisa saja koalisi untuk mengusung capres. "Kita akan menjadi seksi nanti (jika dapat 22 persen PT). Gerindra ikut hayo, PAN ikut nggak, PKB, dan seterusnya. Problemnya sekarang kan hasil survei yang lolos 3,5 persen itu menurut urutan dari hari ini, Demokrat, Golkar, PDIP, Gerindra dan Nasdem, yang lain nggak lolos PT. Itu hasil survei loh. Apakah itu berlanjut sampai 2014 anda tanya lembaga survei," ungkap wakil ketua komisi II DPR itu. Dia menjelaskan, maka sebetulnya terlalu dini untuk membicarakan koalisi partai dalam Pilpres 2014, karena itu masih lama dan akan ada banyak faktor yang menentukan. "Maka kemudian konteks 2014 terlalu dini dibicarakan sekarang hanya mengambil sampel DKI, terlalu dini. Umpama, kalau gabungan PDIP-Gerindra kurang dari syarat minimum mengajukan capres, kita mau bicara koalisi? Ya nggak lah," kata Ganjar.
http://www.starberita.com/index.php?...amp;Itemid=457

PDIP perhitungkan Jokowi nyapres di 2014
Kamis, 11 Juli 2013 11:39:53

Nama Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) selalu di posisi teratas dalam beberapa hasil jajak pendapat lembaga survei nasional, sebagai calon presiden yang diminati rakyat. Setelah sempat menolak, PDI Perjuangan (PDIP) akhirnya akan memperhitungkan Jokowi untuk dicalonkan sebagai presiden di Pemilu 2014. Sekretaris Jendral (Sekjen) PDIP Tjahjo Kumolo mengatakan, PDIP menargetkan perolehan suara di Pemilu Legislatif (Pileg) 2014 mencapai 20 persen. Apabila tak tercapai, kata dia, mau tidak mau PDIP pun harus berkoalisi dalam mengusung capres dan cawapres di Pilpres nanti.

Tjahjo menilai, koalisi merupakan hal yang sangat lumrah dilakukan oleh partai politik. Sehingga koalisi dengan partai manapun akan selalu dipertimbangkan. Termasuk nama-nama yang akan diusung sebagai capres dari PDIP, hingga kini masih terus di bahas. "Kita ingin minimal 20 persen lah. Seandainya tidak, kita akan koalisi. Kemarin last minute juga koalisi dengan Gerindra. Sekarang lagi muncul nama Jokowi, Bu Mega, nanti kita sharing," kata Tjahjo di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (11/7).

Tjahjo juga mengaku sudah melakukan komunikasi secara intens dengan satu partai untuk berkoalisi di Pemilu 2014. Namun, dia ogah menyebut partai mana yang dimaksud. "Yang intensif sudah dengan satu partai. Semua partai pasti komunikasi. Yang pasti parpol peserta pemilu," ujarnya. Terkait dengan syarat koalisi yang diajukan oleh PDIP untuk bisa bergabung. Tjahjo menambahkan, PDIP terbuka untuk melakukan diskusi bersama-sama. "Saya kira menggabungkan konsep pemerintahan ke depan. Kita sharing di kabinet. Anda pahamlah siapa partainya. Soal nama open to discuss," terangnya.
http://www.merdeka.com/politik/pdip-...s-di-2014.html

------------------------------

Hitung-hitungan diatas kertas, kalaulah PDIP mendapat suara 20% di Pemilu 2014 nanti, tetap saja tanda tanya bagi elit PDIP untuk bisa merebut tiket Pilpres. Sebab, rakyat sekarang dalam memilih figur capres, sama sekali tak ada kaitannya dengan parpol pendukungnya. Makanya kalau PDIP harus Nyapres, mereka harus yakin sekali akan memang di putaran kali ini, kalau tak mau menjadi oposisi abadi selamanya.

Tapi siapa calon PDIP? kalau memaksakan Megawati lagi, jelas terlalu naif. Pasti akan kalah untuk ketiga kalinya lagi. Disamping faktor usia yang sudah uzur dan hidup menjanda, lingkungan Megawati tidak lagi sama seperti ketika TK masih hidup dulu. Kalau Megawati tak mencalonkan Pilpres, maka satu-satunya yang laku dijual dari PDIP, siapa lagi kalau bukan Jokowi. Tapi memaksakan Jokowi langsung menjadi RI-1, juga hal yang rawan, karena dia belum matang pengalaman politiknya dan sifat kenegarawanannya. Untuk itu, yang paling pas, Jokowi sementara ditaruh untuk RI-2 saja dulu, baru nanti di Pilpres 2019, dia bisa dimajukan untuk jabatan RI-1 kembali.

Pertanyaan berikutnya, kalau Jokowi cukup dipasang untuk jabatan RI-2, maka siapa tokoh yang cocok dipasangkan kepadanya agar ada jaminan tidak kalah lagi? Atau setidaknya probabiliti kemenangannya tertinggi di Pilpres bisa paling tinggi kemungkinannya? Berdasarkan hasil survei, yang tinggi itu adalah Prabowo Subianto. Alternatif lainnya adalah memasangkan Jokowi dengan Ical dari Golkar, tapi PDIP tak akan berani mengambil risiko berkoalisi dengan Golkar, kalau tak ingin akar rumputnya ramai-ramai menyeberang ke parpol lainnya. Bagaimana kalau dengan jagonya Demokrat dan SBY, kemungkinan Jenderal (Purn) Pramono Edhie Wibowo? Itu pada akhirnya akan bergantung sepenuhnya dengan suasana hati dan suasana kebathinan dari Megawati sendiri. Kalau saja "kebenciannya" pada figur SBY sudah mencair, mungkin saja dia mau memikirkan alternatif ini. Tapi kayaknya sulit dan berat, bila melihat sifat Megawati yang sulit memaafkan lelaki yang pernah menyakiti dan mengkhianati dirinya itu. Jadi? Prabowo akan tetap menjadi kans terbesar pilihan Megawati untuk memasangkannya dengan Jokowi. Apakah Jokowi bersedia? Itu si Jokowi sih, apa kata Mega doank, pasti dia ho'oh saja!



[imagetag]

Blog Archive