BERITA TERKINI

Thursday, August 15, 2013

Diakhiri dengan Sembahyang Rebut dan Bakar Wang Kang

Ritual ziarah kubur yang kerap dilakukan warga Tionghoa dalam setahun ada dua kali. Yang pertama untuk menyembahyangi leluhur dan keluarga yang sudah meninggal dan yang kedua, yang dilakukan pada pekan kedua Agustus ini adalah mendoakan roh-roh yang terlantar.

MINGGU pagi lalu, Yayasan Pemakaman Tionghoa di Kota Singkawang mulai dipadati masyarakat yang ingin melakukan sembahyang. Masyarakat dari mana saja akan untuk melakukan sembahyang kubur di makam leluhurnya.

Namun ziarah kubur di bulan ini sedikit berbeda dibandingkan dengan ibadah sama yang dilakukan bulan tiga lalu. Perbedaan itu hanya terletak pada makna sembahyangnya.

�Jika bulan tiga lalu, sembahyang kuburnya dikhususnya untuk leluhur dan disebut Cheng Beng. Tetapi untuk bulan ini tidak hanya leluhur saja, tapi juga untuk arwah orang lain. Mereka yang tidak pernah disembahyangi, karena tidak memiliki keluarga atau kisah lainnya,� cerita salah satu warga yang melakukan sembahyang kubur, Rio, kepada Pontianak Post, Rabu (14/8) sore.

Sembahyang kubur ini dimulai tanggal 7 Agustus dan akan berakhir 21 Agustus 2013 nanti. Selama 15 hari itulah, pintu akhirat akan terbuka lebar. Sehingga itu menjadi kesempatan berdoa yang tidak hanya untuk para leluhur, tapi juga untuk arwah lainnya yang kuburnya tidak diziarahi oleh sanak saudaranya.

�Dibukanya pintu akhirat, menjadi kesempatan umat manusia untuk memberikan sajian makanan untuk mereka, yang tidak diziarahi keluarganya, atau yang meninggal yang tidak wajar, seperti mereka yang meninggal bunuh diri, atau bayi yang dibuang orangtuanya. Meskipun kita tidak mengenal mereka, disini sebagai bentuk curatan cinta kasih. Agar arwah-arwah mereka bisa tenang,� jelas dia.

Karena itu, sembahyang kubur di bulan ini disebut sembahyang kubur rebutan atau disebut juga Shi Ku.

Meski ada perbedaan dalam maknanya, tapi sesajian yang dipersiapkan tidak jauh berbeda. Seperti, buah-buahan, daging, makanan, pakaian dari kertas, dan perlengkapan lain yang dibutuhkan. Namun tidak lupa juga ada ritual yang harus dilakukan dan itu wajib, yakni Sau Mu atau disebut membersihkan makam lelulur.

�Ritual ini tidak bisa tidak, artinya harus dilakukan,� ucap dia.

Lain halnya yang diungkapkan Boi Wui Khong. Bagi dia, selain sebagai bentuk doa yang dipanjatkan kepada leluhur dan arwah siapa saja, momen ini juga menjadi ajang untuk pertemuan keluarga di Kampung Halaman. Karena bila berlangsungnya tradisi ini, bisa dipastikan keluarga yang tinggal nun jauh disana, juga akan datang.

�Kalau mereka tidak bisa datang, bisa juga sembahyang di vihara, tetapi jika memang bisa ya datang. Karena keluarga juga pada kumpul,� ujar dia, kepada koran ini.

Menurut Boi Wui Khong, sembahyang kubur pada bulan ini juga ditujukan kepada arwah-arwah yang terlantar.

Dimana selama 15 hari pintu neraka dibuka. Sehingga menjadi kesempatan bagi siapa saja untuk mendoakan arwah-arwah tersebut.

�Jadi ketika pintu neraka dibuka, roh-roh itu pada keluar untuk didoakan. Ketika 15 hari sudah berakhir, roh-roh itu akan putih kembali. Karena yang masih hidup memberikan doa untuk roh-roh yang reinkarnasi karena meninggal belum waktunya,� kata dia. Karena itua ia menganggap sembahyang kubur kali ini lebih kental dengan nuansa keagamaannya.

Dimana mereka berkesempatan untuk berdoa-doa terhadap arwah-arwah yang tidak pernah diziarahi oleh sanak saudara mereka. Apalagi terutama untuk arwah yang dianggap meninggal belum waktunya.

Sembahyang kubur ke dua ini diwarnai dengan sembahyang rebut (rampas) dan pembakaran wangkang (perahu) besar, yang dimaksudkan akan mampu untuk mengantarkan roh-roh yang terlantar tadi ke nirwana. (*)

http://www.pontianakpost.com/pro-kal...wang-kang.html

ternyata setahun 2x gan[imagetag]

Blog Archive