Sunday, September 29, 2013

Kisah ketoprak Siswo Budoyo & Lekra sebelum tragedi 65


Sindonews.com - Dua tahun sebelum peristiwa 30 September 1965 meletus, Kuslan Budiman, perupa Lekra dalam surat kabar Harian Rakyat yang terbit tanggal 24 November 1963 memaparkan, bahwa jelang kongres partai yang digelar di Solo April 1964, jumlah organisasi ketoprak terus meningkat.

Lekra menganggap Bakoksi sebagai organisasi terpenting yang harus digarap serius. Prinsipnya, ketoprak harus termanifestasi ke dalam politik Republik Indonesia (manipol) sekaligus menjadi senjata rakyat.

Manipol adalah garis besar haluan negara pada masa pemerintahan demokrasi terpimpin era Presiden Soekarno. Saat itu, tulis Kuslan, sedikitnya ada 800 ketoprak yang turut gencar mengibarkan panji Bakoksi.

Diantaranya di wilayah Kabupaten Temanggung sebanyak 290 ketoprak, Pati 100 ketoprak, Surabaya 40 ketoprak, Pekalongan 150 ketoprak, Semarang 100 ketoprak, Madiun, Ponorogo, Pacitan dan Ngawi 60 ketoprak, Jakarta 15 ketoprak, Kediri dan sekitarnya 55 ketoprak, Besuki 20 ketoprak dan Kotapraja Jogyakarta 50 ketoprak (Prahara Budaya: 72-73).

Sekedar mengingat, Lekra merupakan ormas kebudayaan PKI yang berdiri 17 Agustus 1950 di Jalan Wahidin No 10 Jakarta Pusat. Organisasi para seniman ini didirikan oleh A.S Dharta (Sekretaris Umum), Joebaar Ajoeb, Henk Ngantung (mantan Gubernur DKI Jakarta), M.S Ashar dan Iramani (Njoto).

Adanya magnet pengaruh serta jangkauan yang luas dari seni peran tradisional (ketoprak) itu membuat Lekra getol melakukan penggalangan ke semua wilayah dan daerah.

"Siswo Budoyo Tulungagung merupakan salah satu Ketoprak yang didekati dan diajak bergabung oleh  Lekra," tutur Sunardi (74), salah satu mantan penggiat sekaligus adik kandung mendiang Ki Siswondo Harjosuwito, pendiri Ketoprak Siswo Budoyo kepada SINDO, Minggu (29/9/2013).

Siswo Budoyo adalah ketoprak gaya baru asal Kabupaten Tulungagung yang kelahirannya dipandegani Siswondo Harjosuwito, salah seorang pegawai koperasi Batik Tulungagung.

Sunardi yang ditemui di rumahnya di Desa Sidorejo, Kecamatan Kauman, Kabupaten Tulungagung mengisahkan perjalanan sejarah Siswo Budoyo, termasuk bagaimana persinggunganya dengan Lekra.

Setelah lama bergulat di dalam seni pertunjukkan wayang orang, pada 20 Juni 1958, Siswondo bersama empat orang, termasuk istrinya memutuskan mendirikan ketoprak Siswo Budoyo di lingkungan perempatan Cuwiri, Desa Kalangbret.

Tidak sia-sia. Animo masyarakat pecinta kesenian rakyat kota marmer meningkat pesat. Konsekuensinya, jadwal pertunjukkan yang sebelumnya dibagi dengan wayang orang, oleh Siswondo sepenuhnya dialihkan untuk pagelaran Siswo Budoyo. Secara otomatis, wayang orang sengaja dibuat gulung tikar.

"Jumlah massa rakyat peminat ketoprak yang besar itulah yang mungkin membuat Lekra begitu tertarik merangkul Siswo Budoyo ke dalam wadahnya," terang Sunardi.

Tidak hanya memenuhi panggilan pentas antar kecamatan, ketoprak yang sebagian besar pemainnya berasal dari lingkungan keluarga, perangkat kecamatan dan desa itu, kata Sunardi  mulai melebarkan sayap ke luar kota.

Sekira tahun 1960, Ketoprak Siswo Budoyo resmi masuk wilayah Kabupaten Kediri. Setiap tampil di luar daerah, menurut Sunardi, Siswo Budoyo selalu menerapkan pola menambah pemain baru yang direkrut dari daerah setempat.

"Ini yang menjadikan Siswo Budoyo begitu dekat dengan rakyat dan memiliki jumlah massa penonton loyal yang tidak kecil, "papar Sunardi.

Sepengetahuan Sunardi, tawaran bergabung serta iming-iming bantuan dana besar yang disampaikan Lekra, ditolak oleh kakaknya.

Siswondo yang namanya sudah kesohor sebagai tokoh seniman ketoprak berdalih dirinya sudah meleburkan diri ke dalam wadah Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN).

LKN adalah organisasi kebudayaan yang berada di bawah langsung Partai Nasional Indonesia (PNI). LKN berdiri tahun 1959 yang diketuai seniman penyair revolusioner Sitor Situmorang.

Selain Lekra dan LKN, saat itu juga ada  Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi) milik Nahdlatul Ulama (NU), serta Lembaga Seni Budaya Indonesia (Lesbi) yang berafiliasi ke Partai Indonesia (Partindo).

"Seingat saya, Lekra tidak memaksakan kehendaknya. Setelah ditolak, mereka tidak mencoba mendekat lagi," ingat Sunardi.

Namun, meski menyatakan bergabung ke dalam LKN, Siswondo tidak pernah menghalangi pilihan politik anak buahnya.

Diakui Sunardi ada beberapa anggota Ketoprak Siswo Budoyo yang tercatat sebagai simpatisan Lekra. Salah satunya adalah pelukis kelir (tirai) back ground ketoprak yang ikut terbantai dalam peristiwa G 30 S PKI.

"Namun kita tahunya setelah yang bersangkutan, yakni warga Gringging Kabupaten Nganjuk ikut terbunuh dalam peristiwa 65," jelasnya.

Kelonggaran sikap itu yang membuat Siswo Budoyo tetap bisa berpentas kemana-mana. Pada tahun 1961 Siswo Budoyo manggung di wilayah Kecamatan Caruban, Kabupaten Madiun. Kemudian pada tahun 1962 pentas di wilayah Stasiun Jebres, Solo, Jawa Tengah.

"Pada tahun 1961 kita sudah memiliki sistem lampu tutup buka berbahan kain makau (mori) dengan kelir terdiri dari delapan ban yang luasnya mencapai sembilan meter. Semuanya sukses," kenangnya.

Bahkan, pada tahun 1965, disaat republik dalam situasi berdarah, ketoprak Siswo Budoyo masih memainkan lakon di Klaten, Jawa Tengah.

Hanya saja, oleh pemerintah transisi orde baru, pementasan yang biasanya berlangsung sehari penuh sempat mendapat pelarangan. Ketoprak Siswo Budoyo hanya boleh main pagi dan siang hari.

"Saat itu (1965) kita dilarang main malam hari. Sebab informasinya, tidak sedikit orang-orang PKI yang diburu menggunakan pentas Siswo Budoyo sebagai tempat menyelinap dan bersembunyi," ungkapnya.

Sunardi yang kini aktif sebagai pengasuh Sanggar Pasinaon Pambiworo (pembicara bahasa jawa) menegaskan, bahwa hingga akhir hayatnya (tutup) di tahun 1998, ketoprak Siswo Budoyo tidak memiliki persinggungan atau bergabung dengan Lekra.

"Meskipun kita juga memiliki visi kerakyatan termasuk sampai mempunyai lembaga pendidikan rakyat, Siswo Budoyo tidak pernah menjadi organisasi kesenian yang dilarang pemerintah, "pungkasnya.

Blog Archive